Showing posts with label Hydrating toner. Show all posts
Showing posts with label Hydrating toner. Show all posts
Waktu pertama produknya launching, aku nggak bakal ngira Studio Tropik Probiome Skin Tonic bakal jadi produk yang laku keras di pasaran. Aku ingat banget sebelum produknya launching, aku udah sempat lihat Kak Amal @deszell ngetease produknya karena dia udah dikirimin duluan, tapi nggak ditunjukin dengan gamblang itu dari brand apa, cuma dilihatin warna dan bentuk botolnya aja. Pas akhirnya resmi launching, baru deh ngeh, oh ini produk yang selama ini dibahas sama Kak Amal.
Kalau boleh jujur sih stok tonerku waktu itu nggak lagi butuh-butuh banget buat beli baru, but you know me, kadang ada aja masa-masa di mana aku FOMO hahaha. Kebetulan juga waktu itu nggak ada produk baru yang bisa direview (tapi stok masih banyak di rumah) jadi iseng aja beli deh sekalian ngehabisin poin SOCO. Aku sempat nunggu lama dari produknya pertama sampai rumah sampai akhirnya aku buka dan pakai. Meskipun sampai detik ini produknya belum habis, tapi aku mau review sekarang karena toner ini emang ajaib banget!
BACA JUGA: Pratista Hyalu Hydrating Toner Review
Jadi apa si, Studio Tropik Probiome Skin Tonic? Mungkin kalau cuma dari judulnya aja masih agak samar ya ini tuh produk apa. Probiome Skin Tonic adalah hydrating toner dan dia direlease nggak sendirian tapi bareng sama kembarannya si Herbitus Skin Tonic. Keduanya punya dua kandungan yang berbeda dan tentunya fungsi yang berbeda juga. Aku memutuskan buat cobain Probiome lebih dulu karena aku rasa aku lebih butuh dia ketimbang si Herbitus. Probiome difokuskan buat bantu menghidrasi kulit, makanya seperti yang bisa kalian lihat di label produknya, tertulis; Plumping formula for very dehydrated skin. Buat aku yang kulitnya dehidrasi, tentu klaim kayak gitu terdengar menggiurkan. Sementara kalau Herbitus sendiri fokusnya lebih ke untuk kulit berjerawat. Walaupun aku juga acne-prone, tapi ketika kulitku well-hydrated, jerawat jadi jarang muncul, makanya kenapa aku selalu fokusin produk-produkku supaya bisa bantu menghidrasi kulit.
BACA JUGA: Review 1 Minggu Pemakaian SNP Prep Cicaronic
Probiome Skin Tonic punya beberapa klaim seperti:
- Merangkap benefits toner & essence dalam satu produk
- Konsentrasi bahan aktif tinggi & tekstur lebih kental
- Membuat kulit lebih lembut dan kenyal, siap untuk menyerap rangkaian skincare berikutnya
- Bifida ferment lysate + Lactobacillus - Menghidrasi kulit, menyeimbangkan microbiome, dan mengoptimalkan kondisi kulit. Bersifat anti-aging dan memperkuat skin barrier
- Mempertahankan hidrasi kulit untuk mencegah TEWL (Transepidermal Water Loss) sehingga membuat efek kulit lebih sehat dan kenyal
- 4 jenis Hyaluronic Acid dengan ukuran molekul yang berbeda. Dapat melembapkan kulit secara menyeluruh dari lapisan luar hingga ke dalam. Berfungsi untuk membantu mengunci kelembapan maksimal kulit
- Ekstrak tanaman yang menenangkan dan kaya antioksidan
- Mampu meningkatkan elastisitas kulit dan mengurangi kerutan halus di wajah
Wah, banyak banget yaa, makanya kenapa produk ini laku keras dan jadi favorit banyak orang. Probiome Skin Tonic seperti yang udah aku bilang sebelumnya kalau dia fokus ke menambah hidrasi pada kulit supaya kulit jadi plump. Kalau kulit plump, kulit akan jadi lebih elastis dan garis halus akan tersamarkan, wajah jadi terlihat awet muda. Kedengarannya ajaib banget ya, kayak too good to be true. Padahal nggak, memang itulah kehebatan kulit yang terhidrasi dengan baik. Makanya jangan pernah meremehkan hydrating toner atau produk-produk hydrating lainnya.
Ingredients: Aqua, Butylene Glycol, Caprylic/Capric Triglyceride, PEG-40 Hydrogenated Castor Oil, Propylene Glycol, Bifida Ferment Lysate, Lactobacillus/Collagen/Mesembryanthemum Crystallinum Leaf Extract Ferment Lysate, Betaine, Panthenol, Polyglutamic Acid, Sodium Hyaluronate, Hydrolyzed Hyaluronic Acid, Sodium Acetylated Hyaluronate, Hydroxypropyltrimonium Hyaluronate, Glycerin, Ethylhexylglycerin, 1,2-Hexanediol, Hydroxyethyl Cellulose, BHT, Styrene/Acrylates Copolymer, Citric Acid, Phenoxyethanol, Chlorphenesin, Caprylyl Glycol
BACA JUGA: Nature Republic Vitapair C Toner Review
Tekstur toner ini sebetulnya nggak creamy-creamy banget sih, nggak sampai mirip cream moisturizer gitu, dia tetap cair. Warnanya putih susu dan ada wangi herbal yang aku kurang tahu sih itu wangi apa, maaf aku masih nggak bisa bedain wewangian beberapa ingredients tertentu hihi. Tapi wanginya enak, dan nggak bikin menusuk hidung. Toner ini bisa dipakai baik dengan kapas atau tanpa kapas, jadi dituangkan langsung ke tangan lalu ditap-tap ke muka langsung. Aku sendiri biasanya pakai tangan langsung aja sih soalnya kalau pakai kapas, yang terserap ke kapas cukup banyak, jadinya boros. Kalau ke tangan bisa lebih hemat dan tanganku juga jadi ikut kena tonernya sekalian jadi lebih halus.
Terus gimana efeknya? Wah, aku langsung jatuh cinta pada pemakaian pertama. Akhir-akhir ini kan aku sering malas skincarean ya, dan kalau udah kayak gitu bisa sampai tiga hari nggak skincarean sama sekali. Akhirnya kulitku dehidrasi parah, dan kalau udah dehidrasi, jerawat jadi bermunculan. Begitu aku mulai skincarean lagi kayak biasanya, begitu kulitku ketemu toner ini, rasanya kayak menemukan oase di padang pasir, benar-benar bikin kulit jadi minum! Dehidrasiku langsung hilang, kulitku jadi jauh lebih tenang, kalem, dan bouncy sesuai dengan klaimnya. Buatku yang rentan dehidrasi, produk ini benar-benar penyelamat banget karena sedikit aja pakainya udah bisa mengembalikan kesehatan kulit. Definitely a must try!
Aku masih inget banget gimana dulu aku mikir sebagai pemilik kulit berminyak, aku harus menjauhi produk-produk yang memberikan kelembaban bahkan hidrasi. Kebayang kan betapa parahnya kondisi kulit kalau udah dehidrasi, ditambah nggak kena pelembab juga? Yap, makanya dulu skin barrier aku kacau banget karena nggak dirawat dengan baik. Setelah aku mulai belajar tentang skincare, pelan-pelan pandanganku soal kulit berminyak harus menghindari produk yang menghidrasi dan melembabkan jadi runtuh. Aku semakin paham kalau apapun jenis kulitmu, memastikan kulit mendapatkan asupan hidrasi yang cukup bisa jadi kunci permasalahan kulit yang sekarang lagi kita hadapi. Sekarang, aku nggak pernah take hydration for granted lagi.
Basic skincare itu memang cuma CMP — Cleansing, Moisturizing, Protecting. Tapi buat aku pribadi, aku nggak bisa banget lepas dari yang namanya toner apalagi hydrating toner. Karena setelah aku perhatiin, ternyata meskipun kulitku ini berminyak, tapi ternyata aku rentan dehidrasi. Mungkin karena side effect dari gaya hidup yang kurang bagus ya, karena kan aku suka banget minum kopi tapi kurang minum air, jadinya kulit sering terasa kering. Selain memperbaiki dari sisi gaya hidup itu, aku jadi rely on banget sama hydrating toner. Malah moisturizer suka aku skip karena aku punya sunscreen yang sifatnya cukup oklusif buat menggantikan fungsi moisturizer. Jadi buat aku pribadi, basic skincareku tuh malah cleansing, toner, protecting.
Nah di postingan kali ini aku bakal bahas salah satu toner yang udah sering banget seliweran di timelineku dan udah masuk wishlistku juga dari lama yaitu Pratista Hyalu Hydrating Toner! Dari namanya aja udah ketahuan ya, Hyalu, yang awalnya aku kira kependekan buat hyaluronic acid, ingredients yang paling banyak kita temui terutama di produk-produk yang fungsinya buat memberikan hidrasi. Tapi waktu aku lihat ingredients listnya nggak ada hyaluronic acid yang tertulis secara gamblang, justru adanya sodium hyaluronate yang merupakan turunan dari HA. Sodium hyaluronate ini punya molekul yang lebih kecil dibandingkan HA jadi penetrasi ke dalam kulitnya bisa lebih jauh, yang mana artinya bisa melembabkan lebih lama juga karena masuk ke layer kulit yang lebih dalam.
As always, sebelum kita masuk ngebahas soal performanya, aku bakal sedikit singgung soal packaging atau bagian luar dari Hyalu Hydrating Toner ini. Sebetulnya aku termasuk orang yang lebih cepat kepincut sama produk yang punya kemasan mentereng alias aku bucin packaging. Jadi aku bisa aja beli suatu produk simply because packaging mereka lucu. Perkara ingredientsnya bagus apa nggak, klaimnya apa aja, itu suka aku pikir belakangan wkwkwk. Nah toner ini sendiri perlu aku akui dari segi kemasan sebetulnya nggak terlalu masuk aestheticku, jadi kalau cuma nilai dari luar tuh aku kurang tertarik buat beli. Tapiii gara-gara banyak yang bilang toner ini oke banget performanya, barulah aku mulai pikir-pikir buat masukin ke wishlist. Karena memang menurutku dia tampilannya biasa aja, meskipun khas Pratista, tapi ini aku jujur aja tbh keseluruhan desain produk Pratista tuh terlalu kelihatan kayak produk klinik, jadinya kurang "narsis" kalau diajak foto heheh.

Tekstur toner Hyalu ini termasuk yang lumayan kental, warnanya juga bening, mengingatkan aku sama tonernya SNP Peptaronic. Tapi menurutku kalau Peptaronic itu lebih cepat lembabnya, jadi kalau mau dilayer banyak-banyak agak tricky. Meanwhile si Pratista Hyalu ini jatuhnya lebih ringan pas udah diratain ke kulit, jadi kalau kalian suka pakai banyak skincare dalam sekali jalan, mendingan pakai Hyalu aja walaupun jadinya bakal ngelayer beberapa kali terutama kalau kulit kalian kering ataupun rentan dehidrasi juga sama seperti aku.
Dari segi hydrating dia cukup oke memang, walaupun dari pengalamanku ya belum yang terbaik. Tapi aku sebagai pemilik kulit yang berminyak suka banget malah sama toner kayak gini karena dia nggak bikin pengap di kulit. Ada efek lainnya nggak selain menghidrasi? Sejauh ini sih nggak ada ya, produknya juga nggak ada klaim macam-macam. Palingan kulitku jadi kerasa lebih plump dan sehat aja tiap habis pakai Hyalu. Menurutku sih kalau kalian cari toner yang ringan dan nggak bikin lengket di kulit, bisa cobain aja Pratista Hyalu ini!
Sebagai pemilik kulit acne prone, masalah yang dihadapi itu nggak cuma satu aja, tapi ada beberapa dan rentetan biasanya. Ya jerawatnya, ya merah karena jerawat, ya bekasnya setelah jerawat hilang :") Makanya kalau ada yang bilang udah frustrasi sama jerawat tuh ya nggak salah juga karena memang kalau kulit udah tumbuh jerawat, yang harus dilakuin tuh banyak. Untungnya sekarnag kalau untuk mentackle jerawat aku udah ada produk andalan sendiri. Cuma kalau buat bekasnya memang masih dalam masa pencarian. Nah di sini aku berkesempatan untuk cobain produk-produk dari Clinelle WhitenUp series yang fokusnya memang untuk mencerahkan kulit terutama buat hyperpigmentation. Series WhitenUp ini ada banyak sebenarnya produknya, tapi yang aku cobain ada 4 aja; cleanser, toner, essence, sama spot treatmentnya (serum). Aku bakal bahas satu-satu produknya sesuai urutan pakainya ya.
Clinelle WhitenUp series ini diformulasikan dengan teknologi terdepan anti-photoaging yang mampu melindungi kulit dari penuaan dini akibat paparan radiasi sinar UV. Mengandung 3 bahan utama:
- Ekstrak Japanese Purple Rice — Meningkatkan kemampuan vitamin C dalam mencerahkan, mengencangkan, dan melembabkan
- Vitamin C — Merupakan antioksidan yang baik dalam mengembalikan tekstur kulit dan mencerahkan warna kulit
- Ekstrak bunga Daisy — Dapat membantu mengurangi pigmentasi, kulit kusam, dan meratakan warna kulit
BACA JUGA: Pratista Derma Pure Gel Treatment Review
CLINELLE WHITENUP BRIGHTENING CLEANSER
Jadi yang pertama aku mulai dulu dari cleansernya. Cleanser ini diformulasikan tanpa SLS, which I super love karena kulitku paling sensitif sama SLS. Kalau kena cleanser dengan SLS pasti nanti langsung dehidrasi dan kalau udah dehidrasi kalian bisa tebak sendiri, jerawat bakal mulai bermunculan. Makanya kenapa aku sebisa mungkin pilih cleanser yang nggak mengandung SLS dan untungnya Clinelle ini juga udah tanpa SLS.
Tekstur produknya lumayan heavy sih, dan dia rasanya kayak tipikal gel cleanser pada umumnya aja, agak licin dan makan waktu buat dibilas tapi buatku hal itu nggak pernah jadi masalah karena dengan begitu kulitku jadi nggak dehidrasi. Rasanya enak banget di muka, tapi aku perhatiin kayaknya daya bersih cleanser ini kurang oke deh. Soalnya aku pasti suka ngetes setelah double cleansing ini mukaku udah bersih apa belum pakai toner dan kapas, dan kalau pakai cleanser Clinelle ini aku masih suka lihat ada sisa kotoran yang menempel. Agak disayangkan sih karena aku suka sama cleanser yang nggak bikin kering di kulit tapi pada akhirnya sebuah cleanser harus bisa membersihkan kulit dengan baik.
BACA JUGA: Harlow All Day Glow Cream Review
CLINELLE WHITENUP BRIGHTENING TONER
Setelah pakai cleanser, dilanjut sama tonernya. Tonernya ini datang dalam bentuk udah ada sprayernya jadi enak banget buat yang suka buru-buru atau mageran karena nggak perlu tuang-tuang ke tangan, tinggal semprot aja habis itu selesai. Toner begini juga cocok buat dibawa kemana-mana karena gampang diaplikasikan on the go. Buat yang suka pakai toner dulu sebelum reapply sunscreen, toner seperti ini bisa jadi pilihan kamu buat dibawa pergi.
Semprotannya itu sendiri lumayan oke, nggak nyemprot di satu arah dan bikin kaget, mistnya lumayan halus. Cuma aku nggak pandai menakar berapa banyak spray yang aku butuhkan buat full satu muka, jadi jatuhnya malah cepat habis dan boros karena banyak spray yang kebuang. Makanya setelah beberapa kali percobaan akhirnya aku akalin dengan spray aja ke tangan atau kapas kayak biasa. Jadi agak nggak guna ya ada spray wkwk tapi aku merasa lebih nyaman gitu sih.
In terms of its hydrating effect, menurutku biasa aja. Kalau aku punya kulit yang kering sekaligus dehidrasi, kayaknya aku bakal butuh sesuatu yang lebih dari ini. Untungnya kulitku tipe yang berminyak, walaupun dehidrasi. Jadinya toner ini aja masih bisa mencukupi tapi itu juga harus diboost dengan hydrating product lainnya, kalau cuma mengandalkan toner ini nggak akan cukup di aku. Salah satu trik yang aku pakai juga dengan toner ini adalah menjadikan dia untuk moisture sandwich. Jadi tiap habis ngelayer dengan suatu produk, aku spray mukaku pakai toner ini buat memastikan kulit tetap lembab karena kulit yang lembab membantu penetrasi produk lebih baik kan.
CLINELLE WHITENUP BRIGHTENING SERUM
Habis pakai toner aku lanjut pakai serumnya. Iya, aku pakai serumnya dulu baru essence karena setelah lihat tekstur kedua produk, ternyata serumnya lebih ringan dibanding essence. Aku selalu pakai produk dengan urutan dari yang paling ringan ke yang paling berat makanya aku dahulukan serum di sini. Tekstur serumnya seperti gel lotion, dan ini kayaknya produk terfavorit dari lini Clinelle WhitenUp yang aku cobain karena efek melembabkannya enak banget! Serumnya ini sendiri punya klaim buat mencerahkan kulit dan menyamarkan garis halus serta kerutan. Cuma satu yang jadi kekurangannya sih entah kenapa pumpnya agak aneh, tiap mau ngeluarin produknya pasti produknya muncrat jauh huhu. Nggak tahu ini botolku aja apa yang lain juga mengalami hal yang sama :(
CLINELLE WHITENUP BRIGHTENING SPOT CORRECTOR ESSENCE
Nah kalau ini baru essencenya yang sebetulnya lebih seperti spot treatment menurutku karena anjuran pakainya dia untuk area yang memang bermasalah aja atau area yang ada hyperpigmentationnya. Teksturnya juga hampir sama sih dengan serumnya, cuma lebih berat aja, dan dari segi warna juga lebih pekat. Dia gampang menyerap di kulit, nggak berat, nggak meninggalkan rasa lengket juga, dan yang aku suka ya dia nggak pilling. Aku udah paling males kalau ada produk yang pilling apalagi udah di tengah-tengah skincare routine karena rasanya pengen ngulang aja deh wkwkwk. Tapi untungnya essence ini nggak pilling.

KESIMPULAN
Buat yang belum tahu, tipe kulitku ini berminyak, dan setelah mencoba langsung semua produk ini, aku nggak merasakan ada ketidaknyamanan di kulit. Nggak ada produk yang rasanya terlalu heavy di kulit, nggak ada produk yang bikin kulit pengap atau gerah, dan semua produk bisa digunakan baik pagi ataupun malam hari. Aku sendiri pakai mereka di kedua waktu buat mencapai hasil yang lebih maksimal. Meskipun aku bilang tonernya kurang menghidrasi, tapi serum dan essencenya bisa menutupi kekurangan dari toner tersebut jadi menurutku it's a fair game. Kalau tonernya terlalu berat malah bisa jadi nggak nyaman di kulit waktu dilayer dengan produk selanjutnya.
Selama 10 hari pemakaian rangkaian Clinelle WhitenUp series ini, aku sih belum melihat ada perbedaan yang benar-benar wah, cuma memang kelihatan ada progress terutama kulit yang tadinya banyak kemerahan udah berkurang jauh banyak. Menurutku untuk waktu yang lumayan singkat progressnya udah sampai segini tuh udah sangat mendingan sih karena kita semua tahu yang namanya bekas jerawat itu ngilanginnya susah bukan main, apalagi ini baru dipakai 10 harian belum ada sebulan. Aku bakal lanjut terus pakai produknya buat lihat lebih jauh progressnya gimana.
Masih ingat nggak kalian sama review serum Vitapair C Nature Republic aku beberapa waktu lalu? Di postingan itu kan aku bilang kalau aku berkesempatan untuk cobain seluruh rangkaian Vitapair C, nggak cuma serumnya aja. Jadi hari ini aku mau gantian ngereview tonernya supaya lengkap! Bisa kalian liht di sini ada dua botol, yang satu botol tonernya, satunya lagi botol spray kosong. Untuk lini Vitapair C ini memang tonernya dijual satu set dengan botol spray karena isi tonernya itu sendiri 300ml dan menurutku itu ukuran yang besar ya untuk sebuah toner. Makanya disediakan botol spray dari Nature Republic-nya supaya bisa dijadikan face mist.
Karena ini masih masuk ke dalam lini Vitapair C, jadi klaim tonernya ini nggak terlalu jauh berbeda sama serumnya. Targetnya adalah untuk bantu mencerahkan kulit, baik kulit secara keseluruhan atau dark spot yang disebabkan karena bekas jerawat. Sampai detik ini aku masih kesulitan untuk cari info yang kredibel dari sisi Nature Republic-nya sendiri, aneh ya. Info produk yang aku punya ya cuma dari kotak kemasan produknya (yang sekarang udah kebuang haha).

Toner ini punya tekstur yang cair, tapi cairnya tuh masih termasuk yang kerasa ada beratnya gitu. Nanti kalau diratakan ke kulit dia nggak langsung ngeblend, bakal ngambang di atas kulit dulu sebelum "meleleh" dan diserap kulit. Ini teksturnya unik sih, dan jadinya aku nggak perlu ngelayer banyak-banyak tiap pakai dia. Tonernya sendiri wanginya hampir sama kayak serumnya, wangi jeruk yang kecut gitu, malah menurutku lebih strong wangi tonernya dibanding serumnya haha. Oh iya selain dapat botol spray, kalau beli satu paket kalian juga akan dapat kapas khusus buat apply tonernya sebanyak 45 lembar lho.
Toner ini diperkaya dengan kandungan 10% Jeju Lemon Extract dan Cica Extract untuk membantu mencerahkan kulit dan membuat kulit terlihat sehat. Selain itu toner ini juga mengandung tranexamic acid dan niacinamide untuk melawan hyperpigmentation.
Botol spraynya ini handy banget sebenarnya untuk moistur sandwich. Jadi setiap habis pakai satu serum, aku layer serumnya sama toner ini dengan cara dispray buat memastikan kulit tetap lembab karena penyerapan produk bakal lebih baik kalau kulit dalam keadaan lembab kan. Cuma sayangnya semprotannya itu sendiri kurang halus menurutku. Masih terlalu nyemprot, jadi benar-benar harus ambil jarak cukup jauh karena kalau kedeketan nanti bisa masuk mata dan tonernya lumayan bikin pedih di mata :")

Yap, kalau kalian perhatikan aku masih pakai foto before-after yang sama dengan yang aku upload di review serum Vitapair C karena seperti yang aku bilang, aku pakai produk dari rangkaian Vitapair C ini berbarengan, jadi aku yakin hasilnya nggak cuma berasal dari satu produk aja, tapi karena semuanya dipakai berbarengan. Foto ini diambil dengan rentang waktu 28 September sampai 22 Oktober, jadi kurang lebih sebulan pemakaian dan hasilnya kulitku memang kelihatan jauh lebih segar dan nggak kusam lagi. Beberapa jerawat juga berkurang, dan tekstur kulit jadi lebih halus. Oh iya, karena ini jenis tonernya masuk hydrating toner, jadi aku pakai toner ini setiap hari, pagi dan malam.
Tonernya benar-benar bikin lembab, aku nggak perlu ngelayer sampai berkali-kali buat mencapai kelembaban yang aku mau. Terus meski dia mengandung citrus ingredients, rasanya nggak pedih di kulit sama sekali. Aku benar-benar rekomendasiin produk dari lini Vitapair C Nature Republic ini sih, apalagi kalau dipakai berbarengan sama serum dan gel creamnya, bakal lebih oke hasilnya.
Aku ingat banget beberapa bulan lalu, atau mungkin lebih lama lagi dari itu, brand Skin1004 lagi tenar-tenarnya. Harganya mulai pada naik, semua orang langsung tertarik buat cobain. Ada yang langsung beli sepaket, ada juga yang nyobain per produknya dulu. Jujur, awalnya aku nggak terlalu ngelirik brand ini. Alasan utamanya sih sederhana; karena dulu kemasannya nggak menarik. Iya, aku memang bucin packaging. Jadi kalau ada yang bilang suatu produk cuma menang di kemasannya doang, itu ada alasannya guys. Ya karena ada orang-orang kayak aku ini yang gampang banget tergiur sama packaging cantik hahaha. In the end, kalau produknya bagus ya bakal repurchase, kalau nggak, nggak akan kembali lah.
Seingatku tuh harganya dulu di Shopee masih cukup terjangkau lah, apalagi karena temanku juga waktu itu ada yang pakai ampoulenya, jadi aku udah sempat lihat-lihat produknya di Shopee. Tapi aku kaget banget abis mereka ganti kemasan, harganya kok jadi mahal-mahal hahah. Makin urung lah niatku buat explore brand Skin1004 ini. Sampai suatu ketika ada temanku lagi yang baru aja cobain tonernya, tiba-tiba nawarin aku buat beli toner dia. Lumayan banget isinya masih lumayan penuh kayak yang bisa kalian lihat di foto pertama itu, dengan harga cuma Rp 100.000. Langsung lah aku sikat karena eh, kapan lagi?
Kemasan baru toner Skin1004 sekarang punya desain yang lebih simple, minimalis, dan senada sama produk dari lini madagascar centella lainnya. Kalau dulu kan nggak kelihatan kalau mereka seragam gitu. Yang bikin aku tertarik buat akhirnya nyobain adalah (selain karena kemasannya yang udah masuk selera), di ingredients listnya tercantum di urutan pertama itu centella asiatica extract, bahkan ditulis berapa persenannya. Buat yang mungkin belum tahu, cara baca ingredients list itu ditulis berdasarkan ingredients yang paling banyak ada dalam produk tersebut. Semakin ke bawah semakin sedikit konsentrasinya. Makanya pas lihat centella asiatica extract ada di urutan pertama aku langsung ngiler dong.
Oh iya, awalnya aku kira toner ini termasuk ke dalam exfolating toner karena di situ ditulis kalau toner ini mengandung PHA, salah satu jenis exfoliating agent seperti AHA dan BHA tapi jauh lebih mild dari keduanya. Tapi setelah aku baca-baca penjelasan dari Glow Necessities beberapa waktu lalu, kadar PHA di dalam produk ini terlalu sedikit jadi kalau mau dipakai sebagai exfoliating toner mungkin akan jadi kurang efektif. Tapi di kadar yang sedikit tersebut justru PHA-nya bagus untuk bantu memberikan hidrasi ke kulit. Makanya kenapa di aku, ini aku pakai sebagai hydrating toner.
Ingredients: Centella Asiatica Extract (84%), Water (Aqua/Eau), Dipropylene Glycol, 1,2-Hexanediol, Niacinamide, Gluconolactone, Tromethamine, Carbomer, Sodium Citrate, Adenosine, Disodium EDTA, Dipotassium Glycyrrhizate, Betaine, Hyaluronic Acid, Ethylhexylglycerin
Tekstur toner ini cair banget, persis air. Rasanya light di kulit, tapi lembabnya lumayan. Karena status toner ini yang agak membingungkan, kadang aku suka pakai jadi cleansing toner aja kayak punya Acwell. Jadi kalau pakai ini aja kurang lembab, nanti aku layer lagi pakai hydrating toner lainnya. Selama pakai toner ini aku sebetulnya nggak merasakan ada perubahan yang berarti di muka sih. Benar-benar nggak tahu juga dia kerjanya ngapain karena mukaku nggak jadi kelihatan glowing atau bisa bantu memudarkan bekas jerawat segala macam.
Buat toner dengan harga di atas Rp 200.000, aku merasa seharusnya dia bisa ngasih efek yang lebih visible lagi. Terlepas dia aku pakai sebagai hydrating toner aja, tapi karena dari brandnya sendiri udah ngasih klaim kalau dia bisa mempercepat cells turnover dan nggak terlihat kan jadinya aku sedikit kecewa heheh. Well, aku merasa terselamatkan karena nggak harus beli produk ini dengan harga normalnya karena bakal sedih banget udah berharap akan sesuatu dan ternyata nggak kesampaian :")
Siapa di sini yang selama masa pandemi justru kulitnya makin sering jerawatan? Jerawat itu sendiri banyak faktornya, bisa karena pakai masker yang lembab, entah karena makanan yang jadi pemicu, atau ya karena memang tipe kulit yang mudah berjerawat aja. Akupun sebagai pemilik kulit acne prone, sering kelabakan sama tingkah jerawat yang munculnya bisa tiba-tiba banget dan susah buat dihilangkan. Sekalinya hilang, ternyata ngebekas, haduuh.
Nah, pas banget nih, beberapa waktu lalu aku berkesempatan untuk nyobain produk dari brand yang udah cukup lama ada dalam wishlistku yaitu essenHERB, thanks to Sociolla! Aku dikirimkan dua produk untuk dicoba yakni essenHERB Tea Tree Foaming Cleanser dan Tea Tree Tonernya. essenHERB sendiri punya beberapa produk untuk lini Tea Tree mereka selain kedua produk yang akan aku bahas di postingan kali ini, ada serumnya juga dan semuanya bisa kalian beli di Sociolla.
BACA JUGA: Innertrue Awakening Cleansing Gel Review

Essen HERB Tea Tree Foaming Cleanser
Nah sekarang aku mau bahas cleansernya dulu nih. Kalau kalian pembaca lama dari blog ini kalian pasti udah hapal banget sama jenis cleanser yang aku suka. Kulitku ini gampang banget dehidrasi, kalau udah dehidrasi langsung ngamuk dan muncul bruntusan. Dehidrasi itu bisa diperparah sama salah pakai cleanser, terutama cleanser dengan SLS di dalamnya. Walaupun begitu ada juga kondisi di mana suatu cleanser nggak mengandung SLS, tapi dia tetap punya finish yang suka bikin kering. Biasanya itu masih suka terjadi sama cleanser yang foaming, makanya kenapa aku lebih sering beli cleanser dengan konsistensi gel karena di kulitku, gel cleanser terasa lebih gentle, terlepas dari bagaimana formulanya.
Ingredients: Water, Stearic Acid, PEG-400, Myristic Acid, Potassium Hydroxide, Glycerin, Lauric Acid, Butylene Glycol, Polyquaternium-7, Benzyl Glycol, Panthenol, Glyceryl Stearate, Allantoin, Sodium Benzoate, Melaleuca Alternifolia (Tea Tree) Leaf Extract, Melaleuca Alternifolia (Tea Tree) Leaf Oil, Ethylhexylglycerin, 1,2-Hexanediol, Caprylyl Glycol, Sodium Polyacrylate, Citric Acid, Raspberry Ketone, Aloe Barbadensis Leaf Extract, Propanediol, Sodium Hyaluronate Crosspolymer, Sodium Hyaluronate, Hydrolyzed Glycosaminoglycans, Mentha Piperita (Peppermint) Extract, Chamomilla Recutita (Matricaria) Flower Extract, Centella Asiatica Extract, Eucalyptus Globulus Leaf Extract, Maltodextrin, Hydrolyzed Hyaluronic Acid, Hyaluronic Acid

Essen HERB Tea Tree Foaming Cleanser ini punya konsistensi seperti sabun muka yang mengandung surfaktan, tapi tenang aja karena di ingredients listnya mereka nggak pakai SLS. Busanya juga masih ada tapi nggak terlalu banyak. Aku nggak terlalu mencium bau yang signifikan, ada sedikit hint wangi tea tree tapi kayak kecampur sama wangi mint juga karena di dalamnya ada peppermint kan memang. Setelah aku bilas sabunnya, kulitku sih masih agak terasa seperti ketarik, dan menurutku ini sesuatu yang aku udah hapal aja kalau kulitku ketemu sabun muka yang foaming dan bukan gel. Tapi nggak sampai bikin muka jadi kaku dan perih ya. Menurutku keringnya masih biasa aja, masih di batas aman.
Sabun muka ini targetnya untuk mengurangi jerawat dan minyak berlebih pada kulit, makanya kenapa menurutku kalian yang oily dan acne prone sepertinya akan tertarik buat cobain. Dia mampu meredakan masalah kulit dan membersihkan kulit yang rusak. Busanya yang creamy diklaim bisa membersihkan makeup secara mendalam, mengangkat sel-sel kulit mati dan kelebihan minyak untuk kulit yang lebih bersih. Sejauh ini aku belum merasakan ada negative effect lainnya selain yang agak bikin kering sih. Cuma menurutku untuk mengurangi jerawat dia terbilang lamban. Memang susah kalau cuma mengandalkan sabun muka yang cuma nempel di kulit sebentar aja.
Essen HERB Tea Tree Toner
Selain sabun mukanya, aku juga berkesempatan buat nyobain toner mereka. Toner ini berfungsi menenangkan kulit sensitif an mencerahkan wajah. Mengandung 90% ekstrak daun teh untuk membantu menenangkan kulit dan memperbaiki kulit yang rusak, mengandung bubuk botani untuk membantu mengontrol sebum, memberikan kelembaban pada kulit kering dan ekstrak daun teh untuk membantu menenangkan kulit sensitif, serta memiliki fungsi ganda untuk mencerahkan kulit dan anti kerut.
Tonernya wangi khas tea tree banget, jauh lebih kencang dibandingkan sabun mukanya. Toner ini mengingatkan aku sama Naruko Tea Tree Toner karena wanginya mirip banget dan kebetulan warna botolnya juga sama-sama hijau haha. Tapi keduanya jelas berbeda karena kalau toner Naruko termasuk exfoliating toner, yang Essen HERB ini termasuk hydrating toner.
Aku lupa tunjukin foto di bagian bawah botol tonernya kalau ada seperti serbuk putih gitu, kurang tahu juga sih itu apa, tapi untuk petunjuk pemakaiannya nggak mengharuskan botolnya untuk dikocok jadi bisa langsung dituang aja ke kapas. Bisa juga langsung ke tangan kalau kalian lebih nyaman tanpa kapas, nggak masalah karena ini kan bukan exfoliating toner juga jadi nggak perlu-perlu amat pakai kapas. Toner ini rasanya super hydrating, teksturnya cair banget kayak air, dan aku sempat takut bakal terasa agak perih di kulit, entah karena peppermintnya atau karena trauma aja sama toner yang botolnya warna hijau :") Main ingredientsnya ada di awal-awal, jadi menurutku kalau dipakai rutin toner ini bisa bantu mengatasi jerawat dan mungkin sekaligus mencerahkan karena aku lihat niacinamide di urutan ketiga.
Overall karena ini baru pemakaian beberapa minggu, aku belum bisa bilang banyak sih. Tapi aku lumayan hopeful terutama untuk tonernya karena rasanya benar-benar menghidrasi banget.
Aku tuh sering banget dapat DM dari followers di Instagram buat sering-sering review produk yang "affordable" karena rata-rata yang kureview selalu harganya di atas Rp 100.000 😅 Yah, aku pikir selama nggak di atas Rp 200.000, itu artinya udah affordable, tapi aku sadar sih standard affordable buat setiap orang beda-beda, dan setelah kuperhatiin garis tengah "affordable" buat followersku itu ternyata ada di bawah Rp 100.000. Jadi dimulailah perjalananku mencari produk-produk skincare yang murah meriah buat direview. Perjalanannya cukup menarik, karena aku sadar, rejeki itu naik turun, selama ini kalau dapat produk bagus yang harganya lumayan mahal, itu karena aku dikasih sama brandnya atau dapat dari giveaway. Kalau cocok kan jadi bingung juga ya gimana nanti repurchasenya haha. Jadi perjalanan mencari skincare affordable ini bukan cuma buat followersku, tapi buat aku sendiri.
Sebelumnya aku udah pernah review beberapa produk dari brand Simple, dan kali ini aku bakal review produk mereka lagi karena beneran deh, kalau ngomongin soal affordable dan efektivitas, menurutku brand Simple ini is the one to go. Mereka mudah didapatkan, harganya mostly di bawah Rp 100.000, dan dari segi formula juga nggak banyak irritating ingredientsnya jadi meminimalisir breakout. Selama ini aku cuma pernah coba hydrating toner dari Hada Labo sebagai alternatif affordable skincare, jadi waktu aku ke Guardian dan lihat tonernya Simple ini aku langsung check out aja.
Oke mari kita bahas tentang produknya. Jadi sama seperti produk Simple lainnya, tonernya yang ini nggak ada wangi apapun. Kalau biasanya masih suka kecium wangi kimia, tonernya ini blas nggak ada bau sama sekali. Teksturnya cair banget, persis air, mengingatkan aku sama Hada Labo Gokujyun Ultimate Light Lotion. Nah biasanya toner dengan konsistensi cair begini suka kurang berasa hidrasinya dan ya, boleh dibilang memang kurang sih. Ini karena aku udah pernah coba toner dari brand lain dengan konsistensi yang sama dan setelah dibandingin memang toner Simple ini kurang memberikan hidrasi ke kulit.
Sebetulnya sih kurangnya dia menghidrasi sih bisa diatasi dengan ngelayer tonernya sampai beberapa kali. Butuhnya sampai berapa ya balik lagi ke kulit masing-masing. Cuma kalau kulit kalian rentan dehidrasi kayak aku, kemungkinan sih bakal sering ngelayer toner ini hahaha. Overall, it's not a bad product, dan considering dia termasuk affordable, menurutku dia oke aja. Nggak yang sampai bagus banget, bikin nggak bisa berpaling, tapi biasa aja. Bisa jadi toner emergency ketika kita kehabisan hydrating toner andalan, tinggal mlipir ke Guardian/Watson deh.
Sebagai pemilik kulit berminyak, penting buatku menjaga kulit tetap terjaga hidrasinya supaya kulit nggak memproduksi lebih banyak minyak. Waktu buka question box beberapa waktu lalu, aku kaget karena masih ada yang berpikir kalau kulit berminyak (dibilang) nggak butuh hidrasi atau bahkan pelembab. Ada juga yang nggak bisa membedakan kulit kering dengan kulit dehidrasi. Keduanya memang terasa tipis banget bedanya, tapi kulit yang kering kekurangan minyak, sementara kulit yang dehidrasi kekurangan air. Dan apapun jenis kulitnya—berminyak atau kering—tetap ada kemungkinan untuk mengalami dehidrasi.
Aku sendiri dengan tipe kulit berminyak juga sering mengalami dehidrasi. Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya adalah karena aku kadar asupan air yang aku minum setiap harinya nggak terlalu banyak. Selain itu ada juga faktor eksternal seperti efek sabun cuci muka yang terlalu bikin kering di muka, atau produk skincare lainnya dengan kandungan alkohol terlalu tinggi sehingga membuat kulit menjadi lebih kering lagi.
Dari pertama tahu SNP mengeluarkan produk baru dan salah satunya ada hydrating toner, aku langsung masukin ke wishlist. Rasanya udah jadi kebiasaan aja untuk invest ke hydrating toner karena mereka bikin kulitku yang dehidrasi jadi lebih membaik. Tapi lini Peptaronic ini bukan cuma satu-dua produk aja, tapi lima produk sekaligus, termasuk serum, moisturizer, sheet mask, dan tone up cream. Aku nggak langsung beli semuanya sekaligus karena memang belum butuh banget produk lainnya, cuma yang hydrating toner aja karena toner Etude House Soon Jung aku udah habis.
Keseluruhan desain kemasannya simply cantik banget! Nggak ribut, nggak kebanyakan printilan yang norak, dan waktu awal-awal barangnya sampai di tempatku bahkan tonernya penuh sama gelembung-gelembung kecil gitu. Cuma makin lama gelembungnya hilang dan jadi kayak toner biasa aja. Bahkan setelah aku coba untuk kocok botolnya juga dia nggak menghasilkan busa atau gelembung, jadi penasaran juga gelembung-gelembung kecil di awal tuh asalnya dari apa.
Toner ini dinamai Peptaronic karena di dalamnya ada campuran peptide dan hyaluronic acid yang aku yakin pasti udah nggak asing lagi di telinga kalian semua. Hyaluronic acid sering banget kita temui di produk hydrating toner karena dia memang bisa memberikan hidrasi yang oke banget ke kulit. Produk ini punya klaim untuk membantu proses penyembuhan dan memperbaiki kulit, serta menyeimbangkan kadar minyak dan kelembaban pada kulit supaya kulit kita terlihat sehat.
Fungsi dari peptide itu sendiri adalah untuk membangun kembali protein pada kulit. Protein adalah bahan dasar pembentukan kulit. Tanpa peptide, kulit tidak bisa tetap utuh dan hasilnya adalah berkurangnya kekencangan, munculnya keriput, perubahan tekstur, dan kulit yang tidak bouncy seperti dulu. Mereka bekerja dengan cara memberikan sinyal kepada kulit untuk menghasilkan kolagen yang nantinya dapat memberikan efek kulit terlihat kencang dan awet muda. Kombinasi peptide dan hyaluronic acid ini bisa dibilang bagus untuk mengembalikan elastisitas kulit yang biasanya mulai berangsur berkurang karena efek usia.
Dari teksturnya, toner ini persis kayak tonernya Klairs. Nggak cair banget, agak kental gitu, tapi tetap rasanya ringan di kulit dan masih gampang menggelincir di kulit. Rasanya surprisingly soothing banget di kulit. Bukan dingin kayak mint gitu ya, tapi soothing. Selama beberapa hari aku pakai dia, benar-benar mengingatkan aku waktu pertama kali pakai Klairs juga. Di awal-awal aku ngerasa butuh penyesuaian dulu karena aku terbiasa dengan hydrating toner yang konsistensinya cair banget, sementara Peptaronic kan agak kental. Jadi waktu pertama pakai aku nggak terlalu impressed juga, karena sempat ngerasa tonernya malah bikin kulit semakin kering.
Sedikit info, kalau kalian ngerasa hydrating toner kalian bikin kulit kerasa semakin ketarik, itu bukan karena produknya jelek ya, tapi memang itu sifat dari produk dengan humektan di dalamnya. Humektan punya sifat menarik air dari lingkungan sekitar kita, dan kalau kita pakai toner dengan humektan di lingkungan yang kering, humektan itu justru akan menarik air dari lapisan kulit kita yang terdalam buat dibawa ke permukaan. Makanya kadang ada hydrating toner yang rasanya kurang hydrating, karena itu mungkin banget terjadi. Caraku buat menghindari hal tersebut adalah dengan pakai hydrating tonernya dalam keadaan muka masih sedikit basah atau lembab habis dari cuci muka. Biar tonernya mengambil air dari sisa yang ada di muka aja tanpa bikin kulit semakin kering.
Tapi setelah beberapa kali pakai, pagi dan malam hari, aku mulai suka. Rasanya nyaman banget, sangat menghidrasi kulit, dan efeknya produksi minyakku jadi semakin berkurang. Sayangnya sih dia nggak fragrance free, dan memang wanginya cukup ketara cuma aku suka sih karena wanginya enak nggak kayak parfum kencang gitu. Cuma memang di ingredients list si fragrance ini masih ada di list tengah. Jadi kalau kalian kulitnya sensitif, aku nggak merekomendasikan sih.
Oh iya, toner ini isinya banyak banget, 320ml dan untuk harga Rp 160.000, menurutku affordable banget. Biasanya toner isinya 180ml dengan harga yang sama, jadi kalian benar-benar dapat banyak banget sama si Peptaronic ini. Kalau kalian tipe yang nggak terlalu sering gonta ganti produk, this is totally an investment sih.
Beberapa minggu lalu waktu baru sampai ke Bekasi dari Jogja, aku dihubungi sama pihak Naruko. Mereka nawarin aku buat cobain dua produk Naruko yang bisa aku pilih sendiri sesuai kebutuhan kulitku. Senang bukan main rasanya! Apalagi karena sebetulnya aku udah lama banget memang mau coba produk-produknya Naruko, cuma sayang harganya bikin aku mikir dua kali buat beli.
Pilihanku jatuh pada Tea Tree Shine Control & Blemish Clear Toner dan Purifying Essential Oil, hasil dari diskusi sama pihak Naruko-nya langsung soal permasalahan kulitku sekarang ini. Dari awal memang aku udah ngincer tea tree line mereka sih, dan cukup senang karena menurut Naruko juga aku cocok cobain rangkaian tea tree mereka. Sayangnya apa yang jadi incaranku nggak ada karena stok mereka lagi kosong :( Awalnya aku milih toner sama blemish corrector-nya, tapi habis jadinya diganti essential oil.
Baca juga: Naruko Tea Tree Shine Control & Blemish Clear Mask Review
Baca juga: Naruko Tea Tree Shine Control & Blemish Clear Mask Review
Kita mulai dari tonernya dulu ya. Jadi toner ini punya banyak banget klaim. Intinya sih dia fokus untuk mengatasi jerawat, kulit kusam, dan mengatur produksi minyak di kulit. Tea tree memang selama ini selalu jadi ingredients paling banyak dipakai buat produk yang fokus di penanganan jerawat. Sabun muka kesayanganku pun juga ada kandungan tea tree-nya dan aku cocok banget! Botolnya kemasannya sleek banget. Simple, dan khas warna hijau pertanda dia dari rangkaian produk tea tree-nya Naruko.
Baca juga: COSRX Low pH Good Morning Gel Cleanser Review
Nah sekarang kita masuk ke ingredients list. Jujur, waktu aku pertama milih produknya, aku nggak lihat ingredients keduanya sama sekali. Iya, jangan dicontoh ya haha. Karena kupikir sebelumnya kan aku udah pernah pakai produk dari Naruko jadi aku percaya diri aja nggak bakal bikin breakout. Ternyata begitu sampai di tangan, aku kaget banget lihat alcohol ada di urutan paling pertama toner ini! Tapi aku tetap positive thinking.
Sebetulnya soal alcohol itu aku sendiri nggak terlalu strict ya, karena sebelumnya juga aku pakai tonernya Hada Labo sebelum reformulasi juga ada alkoholnya dan nggak masalah kulitku. Cuma, kita kan selalu mau yang terbaik buat kulit ya, jadi sebisa mungkin aku menghindari kandungan alkohol. Apalagi kalau dia ada di urutan awal. But hey, kalau kata Mas Stefan, kalau kita ngejudge baik buruknya produk cuma berdasarkan ingredients list tanpa nyobain langsung, sama aja kita kayak judging a book by its cover!
Tekstur tonernya cair banget kayak air. Aku suka jenis toner kayak gini karena dia nggak akan bikin kulitku terasa berat waktu aku layer beberapa produk. Wanginya mengingatkan aku sama wangi minyak kayu putih cuma agak samar gitu. Sebetulnya itu wangi tea tree sih tapi entah kenapa yang muncul di kepala malah minyak kayu putih haha. Tonernya sebetulnya enak, bikin lembab dan meresapnya cepat ke kulit. Tapiii sayangnya dia bikin serumku pilling semua. Aku sekarang ini lagi pakai dua serum propolis, satu dari iUNIK, satu dari Dr. Ceuracle, dan dua-duanya pilling.
Selain itu juga aku ngerasa lama kelamaan kulitku jadi kering bersisik. Oh iya, aku pakai dia pagi dan malam setiap hari di slot exfoliating toner, dan mungkin itu terlalu keseringan ya, jadinya efek samping dari kandungan alkohol tadi bikin kulitku makin lama makin kering. Setelah aku kurangi frekuensi pemakaian, kulitku membaik lagi.
Baca juga: iUNIK Propolis Vitamin Synergy Serum Review
Lanjut ke essnetial oil-nya. Nah ini juga sebetulnya aku agak ngeri-ngeri gimana gitu pakainya. Aku 'terpaksa' milih EO karena kubaca-baca dia bisa jadi spot treatment dan kebetulan spot treatment aku juga lagi habis. Selain tea tree, produk ini juga mengandung 2% salicylic acid, jadi masih sama seperti si toner, dia fungsinya fokus untuk jerawat dan mengontrol produksi minyak di muka. Kemasannya kecil banget, dan untuk pemakaiannya sendiri bisa dipakai sendiri atau digabung sama produk tea tree Naruko lainnya.
Baunya yang ini lebih mirip lagi sama minyak kayu putih, jauh lebih strong dibanding tonernya. Apalagi ditambah sama teksturnya yang juga minyak, jadi kalau orang awam lihat pasti dikira sejenis Fresh Care gitu haha. Corongnya kecil, bikin produk agak susah dikeluarin, tapi bagusnya jadi bisa kita takar mau seberapa banyak. Cara pakainya aku jadikan dia persis kayak spot treatment. Jadi cuma aku apply di bagian kulit yang berjerawat aja, nggak aku pakai semuka. Essential oil sendiri kalau dipakai secara topical dianjurkan buat patch test dulu karena ada orang yang alergi sama EO.

Selama beberapa minggu aku pakai kombinasi toner dan essential oil-nya, perubahannya cukup kelihatan sih. Cuma selain itu kulitku juga jadi kering banget makanya aku nggak sanggup lanjut lagi :( Sampai sekarang essential oil-nya masih aku lanjut, dan tonernya akhirnya kupakai buat CSM-an aja. Waktu itu aku pernah pulang dari kondangan tiba-tiba ada benjolan bakal jerawat besar banget muncul di dagu, kayaknya efek dari pakai make-up berjam-jam. Semalaman aku kompres pakai kapas yang kubasahin pakai tonernya dan besoknya langsung kempes, dan jerawatnya nggak jadi nongol haha.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Social Icons